Rupiah Melemah ke Rp18.099 per Dolar AS, Dipicu Ketegangan Timur Tengah dan Sentimen The Fed

Redaksi
A-AA+A++

JAKARTA, AmbonBisnis.com – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah 16 poin atau sekitar 0,09 persen ke level Rp18.099 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.083 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya sentimen global setelah muncul laporan serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS, dengan harga minyak mentah yang kembali melonjak menyusul berita penyerangan oleh Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah,” kata Lukman kepada ANTARA, Rabu.

Berdasarkan laporan Anadolu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah. Informasi tersebut muncul setelah media lokal melaporkan adanya serangan rudal Iran yang menyasar pangkalan militer AS di Yordania.

Ketegangan antara Washington dan Teheran terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah aksi saling serang terhadap fasilitas dan peralatan militer di kawasan Teluk. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan mendorong investor mencari aset yang lebih aman, sehingga memperkuat posisi dolar AS.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar hari ini. Meskipun bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, pasar mengantisipasi pernyataan bernada hawkish dari Ketua Federal Reserve yang dapat memperkuat dolar AS.

Menurut Lukman, sikap hawkish The Fed berpotensi didorong oleh kenaikan harga minyak dunia yang dikhawatirkan kembali meningkatkan tekanan inflasi di Amerika Serikat.

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga masih dibayangi kabar pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia yang dinilai menambah ketidakpastian di pasar keuangan domestik.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berada pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS. (*)

📲 Baca artikel menarik lainnya dari AMBONBISNIS.COM

Gabung WhatsApp Channel AMBONBISNIS.COM